saat kau mendengar suara lain yang membuatmu penasaran, jangan ikuti, karena mungkin saja itu panggilan kematianmu-
Ardianta memejamkan matanya mencoba fokus pada apa yang di dengarnya
–jjau…jj- bunyi ponsel sang dosen membuatnya kehilangan fokus sehingga
suara itu menghilang, mata hitamnya memandang sekeliling tapi tak
menemukan keanehan lain “aku hampir mendengarnya tadi” gumamnya kesal,
jari-jarinya mengetuk meja pelan, seakan berfikir “bahkan jika itu hanya
sayup suara angin, aku tidak bisa mengabaikanya”
Ardianta seorang mahasiswa tingkat akhir, tidak seperti semua orang,
dia memiliki kelebihan yang unik dan aneh sekaligus menakutkan –bisikan
iblis- dia menyebutnya seperti itu karena setiap nama yang terdengar
lewat angin di sekitarnya adalah pertanda buruk bagi sang pemilik nama,
tak ada yang mengetahui itu selain kedua orangtua ardianta, karena
mereka tak ingin ardianta dianggap berbeda dan aneh, ata -nama panggilan
pria itu- sudah lama sejak ia tak mendengar bisikan itu, tapi tadi saat
jam pelajaran tiba-tiba saja ia mendengarnya meski samar-samar, ia bisa
saja mengabaikan suara itu tapi entah mengapa ia tertarik.
Ata masih membereskan bukunya, sementara teman-temannya sudah
berhambur dari kelas, ata beranjak dari tempatnya tapi ia melihat salah
satu temannya masih terdiam di bangkunya “ada apa J?” gadis yang
dipanggil J itu membuka matanya terkejut “kau tidur?” J menggeleng “aku
mendengar suara aneh, dia terus memanggil namaku” ata terdiam menatap J
“suara?” J menggangguk sambil membereskan peralatannya “kusarankan agar
kau mengabaikannya, itu pasti halusinasi” ata keluar lebih dulu dari
kelas, ia memasang pendengarannya fokus -jauza jahira- nama itu
terdengar halus seperti angin yang melewatinya “jauza jahira” gumam ata
dan berbalik cepat kembali ke kelas tapi tak mendapati siapapun lagi,
nama asli J adalah jauza jahira dan itu berarti iblis itu mengincarnya,
keluar dari kelas ata dapat melihat J sedang berjalan ke arah
berkebalikan darinya tadi, ata langsung berlari mengejar J.
“jauza berhenti” pekiknya yang sama sekali tak digubris, J sudah
dikendalikan dan akan sulit membuatnya kembali sadar, ata berhasil
menahan pergelangan tangan J tepat sebelum J menjatuhkan diri dari
tangga, ia memegang kedua pundak J kuat, pandangan mata gadis itu kosong
dengan wajah yang datar.
“abaikan panggilan itu, itu jebakan untuk memerangkap jiwamu, lawan dan
kembalilah” pekik ata di hadapan J, tapi tak ada respon apapun, gadis
itu terlihat sepperti zombie sekarang “kau tau jalannya, jalan kembali,
ikuti jalan itu” perlahan J mengedipkan matanya “J dengar, jangan
berbalik, terus berjalan” suara ata melembut dan perlahan kesadaran J
kembali, kakinya lemas, beruntung ata menahannya agar tak jatuh,
nafasnya terdengar kasar seakan ia baru saja bangkit dari kematian “tak
apa, semuanya baik-baik saja” J menggangguk lemah, ia masih tak mengerti
dengan apa yang barusan terjadi hingga ia berada di sini bersama ata,
satu-satunya hal ia ingat hanyalah suara yang memanggilnya dan ia
mengikuti suara itu.
“bukankah aku sudah memberimu saran tadi, untuk mengabaikan panggilan
itu” J mengangguk lagi, kali ini ia sudah bisa berdiri sendiri tanpa
berpegang pada ata “mana mungkin aku mengabaikan suara yang memanggil
namaku” ata menghembuskan nafas lelah ia tau J akan menjawab seperti itu
karena hampir orang-orang yang ata selamatkan juga mengatakan hal yang
sama.
“tapi terkadang kau harus mengabaikannya, karena mungkin saja suara itu
adalah panggilan kematianmu” suara ata terdengar tegas penuh peringatan.
“ayo kembali” ata menuruni tangga lebih dulu, tak ada yang perlu
dikhawatirkan karena iblis hanya memanggil nama satu orang itu sekali,
dan jika gagal ia akan mencari nama lain “kau mengetahui tentang itu?
bisikan iblis, kau tau tentang itu?” ata berhenti tepat sebelum anak
tangga terakhir, perlahan ia berbalik dan langsung bertatapan dengan
mata J “aku anggap iya, tapi apa kau tau peraturan bagi manusia yang
mendengar bisikan iblis?” J menuruni tangga tanpa melepas tatapannya
pada ata “aku orang yang ke berapa? Yang kau selamatkan?” J berhenti
tepat di satu anak tangga di atas ata.
“dengar, kau hanya bisa menyelamatkan 13 orang, jika kau
menyelamatkan lebih dari itu, maka namamu yang akan menjadi panggilan
berikutnya” keduanya terdiam, sayup-sayup ata dapat mendengar bisikan
yang menyebutkan namanya yang juga didengar oleh J,
“a, apa maksudmu?” tanya ata gugup, ada hal yang tak ia mengerti di sini!!
“kau terlalu sibuk dengan duniamu, hingga kau tak lagi memperhatikan
sekelilingmu, aku bukan jauza jahira, aku adalah iblis yang memanggil
namanya, kau baru saja menyelamatkannya tapi kau harus menggantinya
dengan dirimu, karena dia orang ke 14” J menoleh ke atas tangga dan
mendapati seorang gadis sedang terbaring di lantai -pingsan-, ata ikut
menoleh dan mendapati temannya yang bernama jauza sedang terbaring tak
sadar.
“jadi maksudmu, sekarang” J mengangguk “tak ada yang bisa
menyelamatkanmu, kau harus ikut bersamaku” J berbalik kembali menaiki
tangga, melewati gadis bernama jauza dan diikuti oleh ata yang
sepertinya sudah kehilangan kesadaran” itulah kenapa jangan pernah
pedulikan suara apapun, karena bisa saja itu panggilan kematianmu” gumam
J dan menghilang bersama ata entah ke mana.
J itu berarti –jangan dan jauhi- tapi ardianta mengabaikannya, itulah
mengapa jangan pernah mengikuti panggilan yang membuatmu penasaran, dan
jauhi sejauh mungkin, karena mungkin saja namamu yang menjadi panggilan
berikutnya.
END
Cerpen Karangan: Rizki Safitri
Blog / Facebook: Kkiki
Cerpen Suara Bisikan Iblis merupakan cerita pendek karangan Rizki Safitri, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.
Rabu, 18 April 2018
Langganan:
Komentar (Atom)
